Pada malam 16 September 1982, Sharon mengirinm squad pembunuh milisi Phalangist ke dalam kamp – kamp pengungsi Palestina, Sabra dan Shatila. Dengan tank - tank dan tentara Israel menutup sebuah kamp untuk mencegah warga Palestina dari upaya menyelamatkan diri, maka squad pembunuh dengan senjata mesin, bayonet dan pemukul membantai rakyat Palestina sepanjang malam, hari betikutnya dan malam berikutnya, kemudian ketika bangsa Israel yang mengelilingi kamp itu mendengat gembira ketika tembakan senapan mesin dan jeritan yang datang dari dalam kamp – kamp itu. Kemudian, Sharon mengirim buldozer untuk menyembunyikan sebanyak mungkin kekejaman yang dilakukannya. Sekurang – kurangnya 1500 pria, wanita dan anak – anak Palestina dibantai. (Sebuah investigasi resmi Pemerintah Lebanon menyebutkan angka 2500 jiwa). Bahkan setelah upaya buldozer Sharon, banyak warga Palestina tidak terkuburkan dan para pekerja Palang Merah menemukan seluruh keluarga – keluarga itu, termasuk ratusan anak – anak dan orang lanjut usia dengan leher terpotong atau keluar isi perutnya. Jumlah wanita dan gadis tak terhitung jumlahnya diperkosa sebelum dibantai.
Pada tahun 1982, sebagai Perdana Menteri Israel, Sharon memimpin invasi ke Lebanon dan melakukan pemboman dan menghancurkan kota Beirut. Di Lebanon lima kali lebih banyak wanita dan anak – anak meninggal dari pada dalam serangan 11 September di New York. Pemboman ini dilakukan oleh bangsa Yahudi dengan menggunakan pesawat tempur dan bom – bom yang disuplai oleh Amerika Serikat.
SUMBER:
David David “How Israeli Terrorism and American Treason Caushed the September 11 Attack”; judul terjemahan “Mengapa Amerika (mau) diserang (lagi)? Sebuah Penjelasan Jujur dan Provokativ Ihhwal Tragegi 11 September” (Penerbit Kalam Indonesia; Ciputat, 2004)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar