Selama invasi dan pendudukan Israel di Lebanon (1978 – 2000), sekitar 15.000 warga sipil meninggal. Berikut artikel yang ditulis oleh Robert Fisk, warga Inggris, di harian The Independent (Harian London).
Qana, Lebanon Selatan, “Ini sebuah pembunuhan massal, bukan saja sejak pembunuhan masal si Kamp Sabra dan Chatila, saya melihat pembantaian warga sipil tak berdosa seperti ini. Para pengungsi Lebanon yang terdiri dari wanita, anak – anak dan pria, tergeletak tak bernyawa dalam tumpukan – tumpukan, telepak tangan, lengan atau kaki mereka hilang, dipotong atau disayat. Ada lebih dari ratusa jumlahnya. Seorang bayi tergeletak ditanah tanpa kepala. Rudal – rudal Israel telah mencabik – cabik mereka ketika di bunker PBB, yang dipercaya aman dibawah perlindungan dunia. Seperti Umat Muslim di Srebrenica, anggapan Umat Muslim di Qana juga keliru.
Didepan sebuah gedung yang terbakar dimana menjadi markas besar Bataliyon PBB asal Fiji, seorang anak perempuan menggotong tubuh dikedua tangannya, tubuh seorang pria yang rambutnya sudah beruban dimana kedua matanya menerawang ke anak perempuan itu, kedepan dan ke belakang, bersimpuh, menagis dan berteriak dengan kata yang sama berulang – ulang, “Ayah saya, ayah saya”. Seorang tentara PBB asal Fiji berdiri ditengah - tengah lautan tubuh yang sudah tak bernyawa, dan tanpa dapat berkata apa –apa, mengangkat tubuh seorang anak tanpa kepala.
.... Ketika saya kearah tubuh – tubuh yang tak bernyawa itu, saya terjatuh diatas potongan lengan manusia ....
SUMBER:
1. Robert Fisk, “Massacre In Sanctuary : Eyewitness”, The Independent, hal 1, 19 April 1996)
2. Duke, David, “How Israeli Terrorism and American Treason Caushed the September 11 Attack”; judul terjemahan “Mengapa Amerika (mau) diserang (lagi)? Sebuah Penjelasan Jujur dan Provokativ Ihhwal Tragegi 11 September” (Penerbit Kalam Indonesia; Ciputat, 2004)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar