Jumat, 12 Februari 2010

INDUSTRI PROPAGANDA

Hegemoni kaptalis global dapat dicapai dengan dua cara. Pertama ada Aparat Militer Global, dan kedua adalah Imperialisme kebudayaan, termasuk didalamnya : penetrasi dan dominasi atas sistem komunikasi dan informasi, lembaga pendidikan, organisasi kebudayaan dan keagamaan, serikat pekerja, pemilihan, kebiasaan konsumen, dan gaya hidup. Salah satu kunci imperialisme kebudayaan adalah United States Information Agency (USIA; Badan Informasi Amerika).

Untuk menjalankan operasinya, USIA yang berkedudukan di Washington menerima US $ 1 Milyar per tahun dari para pembayar pajak. Ironisnya banyak rakyat Amerika yang tidak tahu keberadaannya. Memang lembaga ini merupakan salah satu rahasia yang dijaga ketat.

USIA, adalah suatu bisnis ekspor. Ia memberikan suatu pandangan yang menyenangkan mengenai Amerika bagi orang asing, dengan maksud untuk memajukan Kepentingan Nasional Pemerintah Amerika. USIA menyebut cabang khususnya untuk urusan luar negeri sebagai “public diplomacy” (diplomasi publik), istilah pemanis untuk propaganda. Difinisi propaganda menurut Ensiklopedia ialah instrumen perang psikologis yang bertujuan mempengaruhi tindakan manusia dalam cara – cara yang sesuai dengan tujuan Kepentingan Nasional dari negara yang melakukannya.

Propaganda yang paling menghasut mengambil bentuk pernyataan – pernyataan para pemimpin nasional, yang sering disensasionalkan dan dikuatkan dengan siaran nasional (dalam negeri AS) maupun internasional serta diperluas oleh media cetak di negara – negara yang menerima informasi tersebut. Sebagai contoh, Saddam Hussein sering digambarkan oleh pejabat – pejabat Gedung Putih dan diikuti begitu saja oleh media massa sebagai diktator yang menyengsarakan rakyatnya, agresor yang berbahaya bagi negara tetangga, bahkan penyimpan senjata pemusnah massal yang ditujukan ke AS serta mengancam perdamaian dunia. Mantan Presiden George Bush Senior juga menyamakan Saddam dengan Hitler.
Propaganda, menurut definisinya, harus mempunyai audiens yang dituju. Audiens USIA ditentukan oleh ideologi politik dari si Propagandis. Dengan kata lain, sasaran utama USIA adalah klien – klien elit dari bisnis kalangan atas dan eselon profesional yang akan memandang AS sebagai pemimpin dunia. USIA menargetkan para elite terpelajar. Dari perspektif USIA, kaum elite terpelajar berada dalamm posisi terbaik untuk membentuk dan mempengaruhi kebijakan – kebijakan pro-AS di negara – negara mereka masing – masing.
USIA menggunakan berbagai media massa, termasuk pemancar radio luar negeri seperti VOA. Efektifnya propaganda AS, tak terlepas dari peran media – media massa AS, seperti media cetak, radio dan televisi, yang umumnya memandang diri mereka “patriotis” bila menyebarkan informasi yang berpijak pada asumsi Pemerintahnya, kendati informasi itu sudah diputar-balikkan. Sebagai contoh, selama krisis dan konflik Irak, media massa AS membaritakannya secara seragam dan umumnya memojokkan Irak. Media yang memberikan informasi yang berbeda dengan pandangan Washington, seperti Jaringan Televisi Al Jazeera, justru diboykot washington.

SUMBER:

Nancy Snow, “Propaganda, Inc: Selling America’s Culture to the World – Second Edition judul terjemahan Propaganda, Inc: Menjual budaya Amerika ke Dunia - Edisi Kedua, (Penerbit Opini: Jakarta, 2002);

Tidak ada komentar:

Posting Komentar